Senin, Maret 24, 2008

TUKANG FOTO


Sebelum jadi karyawan di perusahaan valas PT. Prima Tangguh Arta, saya habiskan waktu 2 tahun berkecimpung di dunia Fotography. Bukan karena hobby tapi lebih karena jalan hidup yang harus di tempuh. Atas rekomandasi kakak tercinta mas Yatimun , akhirnya saya bisa kerja di Ketintang Photo di kawasan Ketintang. setelah sekian lama 'learning by doing' akhir mas Iskak adik ipar pak Mursidi meminta saya untuk jaga studio foto di Jl. Arif Rahman Hakim Sukolilo. Tepatnya di seberang Universitas Putra Bangsa.

Gaya hidup mandiri dan pelajaran enterprenership berawal dari tempat ini. Ketintang Photo di sukolilo adalah "Kawah Candradimuka" yang menggembleng saya untuk menapaki hidup yang berliku-liku mengarungi kerasnya persaingan sekedar melanjutkan nafas kehidupan. Dari pagi sampai pagi lebih banyak ku habiskan mengurusi Studio Foto yang baru berdiri ini. Di awali dengan sholat subuh trus kumulai hidupku di dalam "kamar gelap".

Untuk mencetak foto hitam putih hanya ruangan ini yang cocok. Pagi jam 07.00 toko harus sudah siap di buka, menunggu pelanggan yang datang hari ini. Kesendirian kadang membuatku bosan tapi keinginan untuk merubah garis tangan lebih kuat jika di bandingkan hanya sekedar keluh kesah dan menyerah. Hidup ini kejam Jendral, itu kata Sinaga Bonar

Pergantain hari terasa lambat, bahkan hanya untuk menunggu bergantinya jam makan siang ke jam makan malam pun terasa amat sangat membosankan. Beruntung teman-teman mas Iskak seperti Totok, Welas, Kuni, Mario dan Ahmad sering nongkrong di "studioku" sambil mereka menunggu jam kuliah berikutnya.

Alangkah beruntungnya mereka yang bisa kuliah dan tidak seperti saya. Saya pun tak sanggup membayangkan masa depan seseram apa jika saya terus seperti ini. Pelan-pelan ku tata hatiku dan ku teriakkan dalam hati, "Surabaya tunggu aku, kan ku taklukkan keangkuhan dan kekejaman-mu".

Dari sini keinginan untuk kembali kuliah kembali mengusik, akhirnya saya masuk di Universitas Muhammadiyah Surabaya. Segala liku-liku kehidupan mulai menari-nari dalam kehidupan berikutnya

Minggu, Maret 23, 2008

JALAN TERJAL DAN BERLIKU


Melihat perkembangan Surabaya di era 80-an membuat saya semakin kecil dan terpinggirkan. Saya hanyalah debu yang beterbangan diantara rimbun dan kokohnya beton-beton di sepanjang jalan kota.

Hidup yang serba tidak pasti dan mulai munculnya brandal-brandal kecil membuat hati tersayat. Tapi saya selalu fokus pada tujuan....Saya akan takluk-kan Surabaya. Kalau pun tidak target minimal saya akan jadikan Surabaya sebagai pijakan untuk merubah garis tangan yang nampaknya akan stagnan dan lambat.

Belajar di sebuah sekolah Menengah RADEN RAHMAT di Karang Rejo membuat saya harus belajar naik Truk kalau mo olah raga di lapangan Karah. Mulyadi dan Ansor adalah teman terbaik sekaligus guru yang bagus tentang teknik-teknik mengejar truk, lompat, naik dan mendarat dengan selamat.

Selesai menimba Ilmu di SMP Raden Rahmad Surabaya, akhirnya masuk lobang jarum SMA PPSP (Sekarang lebih di kenal dengan SMAN 18 Surabaya). Komplek sekolah yang ada di Lingkungan IKIP Negeri daerah Ketintang adalah sebuah lingkungan yang tenang dan sangat cocok untuk belajar. Bersama Endang dan Priyo saya bisa masuk tanpa melewati test yang cukup berat. Syukurlah........sayapun lulus dengan lancar.

Memasuki dunia kulaih ternyata tidaklah mudah, impian jadi Insinyur seketika lenyap karena nggak lulus UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Sabar dan menunggu tes tahun depan, bisik ku dalam hati.

Tahun berikutnya ikut tes lagi dan udah bisa di tebak, garis tangan nggak mulus dan akhirnya Gagal Maning-Gagal Maning. Tidak mau berlarut dalam cita2 jadi tukang Insinyur akhirnya masa 2 Tahun cukup bagiku untuk ancang-ancang ambil plan B.

Kuliah malam hari dan Kerja di siang hari, nampaknya suatu pilihan yang masuk akal. UNMUH Surabaya akhirnya sebagai pelabuhan berikutnya untuk menimba Ilmu. Berkat bantaun sahabat karibku semasa di SMA, mas Agus Djatmiko, akhirnya saya bisa kerja di PT. Prima Tangguh Arta. Sebuah perusahaan "commision house" atau pedagang Valuta Asing di Jl. Sumatra 35 waktu itu.

Kerja jam 07.00 pagi sampai 17.00 sore sementara jadwal kuliah jam 16.00 sore sampai 22.00 malam. Susah mensiasati bagaimana membuat semua ini berjalan sebagaimana mestinya. Maka pepatah "Malu bertanya akan sesat di jalan" akhirnya menginspirasi ide ini.

Dengan perasaan deg-degan akhirnya saya beranikan tanya ke para Dosen di kampus. Bisakah saya hadir jam 17.00 atau lebih untuk mengikuti perkuliahaan dengan alasan saya harus bekerja untuk bisa bayar uang SPP. Dengan penjelasan seperti itu, ternya salah satu Dosen saya pak Najih memperbolehkan asal tetap hadir walaupun telat. Bahkan kalau dihitung-hitung sayalah mahasiswa yang datang pas Absensi di bacakan ketika perkulihaan hampir bubar. Itu tidak mematahkan semangat saya yang ingin menaklukkan Surabaya. Dengan tetap menjalin persabatan dengan teman-tema sepeti Dwi Setiadji, Handoko, Muin maupun teman lain agar bisa dapat info tentang pelajaran yang tertinggal, akhirnya lulus juga dari UNMUH Surabaya. Thank pal....you are the best