
Sebelum jadi karyawan di perusahaan valas PT. Prima Tangguh Arta, saya habiskan waktu 2 tahun berkecimpung di dunia Fotography. Bukan karena hobby tapi lebih karena jalan hidup yang harus di tempuh. Atas rekomandasi kakak tercinta mas Yatimun , akhirnya saya bisa kerja di Ketintang Photo di kawasan Ketintang. setelah sekian lama 'learning by doing' akhir mas Iskak adik ipar pak Mursidi meminta saya untuk jaga studio foto di Jl. Arif Rahman Hakim Sukolilo. Tepatnya di seberang Universitas Putra Bangsa.
Gaya hidup mandiri dan pelajaran enterprenership berawal dari tempat ini. Ketintang Photo di sukolilo adalah "Kawah Candradimuka" yang menggembleng saya untuk menapaki hidup yang berliku-liku mengarungi kerasnya persaingan sekedar melanjutkan nafas kehidupan. Dari pagi sampai pagi lebih banyak ku habiskan mengurusi Studio Foto yang baru berdiri ini. Di awali dengan sholat subuh trus kumulai hidupku di dalam "kamar gelap".
Untuk mencetak foto hitam putih hanya ruangan ini yang cocok. Pagi jam 07.00 toko harus sudah siap di buka, menunggu pelanggan yang datang hari ini. Kesendirian kadang membuatku bosan tapi keinginan untuk merubah garis tangan lebih kuat jika di bandingkan hanya sekedar keluh kesah dan menyerah. Hidup ini kejam Jendral, itu kata Sinaga Bonar
Pergantain hari terasa lambat, bahkan hanya untuk menunggu bergantinya jam makan siang ke jam makan malam pun terasa amat sangat membosankan. Beruntung teman-teman mas Iskak seperti Totok, Welas, Kuni, Mario dan Ahmad sering nongkrong di "studioku" sambil mereka menunggu jam kuliah berikutnya.
Alangkah beruntungnya mereka yang bisa kuliah dan tidak seperti saya. Saya pun tak sanggup membayangkan masa depan seseram apa jika saya terus seperti ini. Pelan-pelan ku tata hatiku dan ku teriakkan dalam hati, "Surabaya tunggu aku, kan ku taklukkan keangkuhan dan kekejaman-mu".
Dari sini keinginan untuk kembali kuliah kembali mengusik, akhirnya saya masuk di Universitas Muhammadiyah Surabaya. Segala liku-liku kehidupan mulai menari-nari dalam kehidupan berikutnya
