Jumat, Mei 29, 2009

SUKU DAYAK


Kalimantan Tengah identik dengan penduduk Suku Dayak, tetapi perantaun dari Sabang sampai Meraoke pun banyak tingal di sini. Kalau anggapan sebagian orang JAWA bahwa orang Dayak sebagai PEMANGSA manusia adalah salah besar. Pada umumnya suku Dayak sama dengan suku-suku lain di Indonesia.

Gadis-gadis Dayak kulitnya putih bersih, bahkan terkesan bahwa orang-orang Dayak lebih mirip orang Tionghua. Dari sisi pergaulan oarng-orang Dayak sangat santun dan ber-etika tinggi. Mereka memegang teguh dimana BUMI di PIJAK, di situ LANGIT harus di JUNJUNG. Artinya kalau ada pendatang maka di harapkan juga menghormati dan menghargai Masyrakat dan Adat setempat.

Orang-orang asli Suku Dayak mata pencahariannya lebih banyak di bidang Pertanian ladang berpindah maupun Nelayan sungai. Namun banyak juga orang suku Dayak yang sudah beradaptasi dengan perkembangan jaman baik sebagai pegawai negri, swasta maupun tidak jarang ada yang sudah menduduki jabatan tinggi di pemerintahan, kepala daerah, misalnya.

Ikatan kekerabatan suku Dayak sangat kuat sehingga pola hidup gotong royong sangat kental mempengaruhi kehidupan sehari-hari mereka. Ini akan terlihat ketika ada acara upacara adat maupun acara ke agamanaan.

KUYANG


Seumur hidupku, saya belum pernah dan nggak akan pernah ingin ketemu dengan nama itu. KUYANG kata orang setempat hampir sama dengan LEAK di BALI atau BANASPATI di pulau JAWA.

Di Kalimantan Tengah, KUYANG katanya adalah sebuah kepala manusia plus usus yang terburai dan melayang di udara pada malam hari untuk mencari mangsa. Hanya orang-orang yang terpilih bisa menjadi KUYANG.

Ketika saya bekerja di salah satu tambang emas di sana, untungnya saya tidak tahu tentang kata KUYANG itu, andai saya tahu pasti beda ceritanya. Selama di sana saya tinggal di mess perusahaan yang kebetulan JS-10 adalah mess paling belakang. Belakang dari mess itu di pagari oleh kawat berduri dan bersentuhan dengan hutan bambu yang lebat. Jika malam hari dan angin bertiup kencang, suara gesekan daun dan ranting bambu menambah suasana begitu mistis apalagi di terangi sinar bulan Purnama. Makin sempurnalah suasananya magis itu.

JS-10 ada 6 kamar untuk 6 karyawan, namun karena bekerja di tambang ini menggunakan sistem roster, maka biasanya hanya 3 - 4 orang yang menghuni. Sialnya, selalu ada waktu kosong dimana dari 3 orang itu tinggal bersama-sama. Mas Agus dari Dyno lebih suka tinggal di kampung sehingga praktis kadang saya harus tinggal sendirian di mess itu.

Hampir tiap malam saya mendengar suara seperti burung yang sedang terbang di atas mess dengan suara kepaknya sayapnya yang terlalu keras suaranya. Saya pun tidak menaruh juriga.

Akhirnya ketika saya sudah tidak bekerja lagi di sana baru tahu bahwa suara-suara itu adalah KUYANG. Merinding seluruh bulu kuduk ku ketika mas Usah menceritakan semua ini. Untungnya mas Usah yang asli orang Kalimantan Tengah menceritakanya kepada saya ketika saya sudah berhenti dari perusahaan itu, seandainya belum....tak tahu apa yang terjadi.

Rabu, Mei 27, 2009

SUNGAI BARITO DI TENGAH MALAM


Seperti biasa, setiap tanggal 20 an setiap bulan saya atau staff acounting yang lain harus ke Muara Teweh, sebuah kota kecil di kabupaten Barito Utara. Dari Dock site perusahaan kami perlu wakyu 4-5 jam untuk sampai ke Muara Teweh dengan menggunakan speed boat, tak ada jalan darat.

Sore itu rencananya kami berangkat sekitar pukul 16.00, namun karena masih banyaknya pekerjaan akhirnya kami terpaksa meluncur jam 19.30. Malam sudah terlihat pekat untungnya rembulan purnama masih mau menerangi sekitar SUNGAI BARITO yang dikelilingi hutan lebatnya. Sejurus kemudian, saya, mas Taufik, 2 brimob dan pak Pugau sang sopir speed boat beranjak menyusuri sungai barito yang tenang. Sungai itu memperlihatkan kedalamanya lewat air yang mengalir tenang dipermukaanya. Kami membelah dimalam yang gelap menyusuri liukun indahnya sungai barito yang diterpa rembulan.

Ngeri membayangkan jika speed boat yang saya tumpangi rusak atau bahkan pecah menabrak batang pohon larut, apa jadinya. Betul-betul malam yang mendebarkan. Pak Pugau hanya mengandalkan instingnya kapan harus belok kiri kapan harus belok kanan. Kami pun percaya 100% dengan dia, karena dia sudah bertahun-tahun menyusuri sungai itu siang dan malam.

Lewat tengah malam akhirnya kami sampai di Muara Teweh, kami langsung istirahat di Hotel Pacifik Muara Teweh. Karena kelelahan di balut dinginnya malam sepanjang perjalanan, saya tidur dengan lelap. Esok paginya saya ke BNI setempat untuk mengambil uang gaji bagi teman-teman di Indo Muro Kencana.

Akhirnya setelah urusan kelar kami meluncur pagi harinya kembali ke dock site IMK di Mangkahui tak lupa makan siang dulu di Puruk Cahu dengan menu udang sungai yang luar biasa rasanya.

Selasa, Mei 26, 2009

PEMBURU BABI

Seperti biasanya, sebagai staff accounting jam kerja saya sedikit lebih panjang dibandingkan dengan staff lain, apalagi pas ngejar dead line bikin monthly report. Malam itu seperti biasanya saya dan Nolly lembur berdua di kantor admin yang kira-kira jaraknya 2 km dari camp. Di luar nampak awan tebal menggelayut di ujung langit dan sesekali terlihat kilauan kilat yang bercengkrama dengan pekatnya malam.

Saya dan Nolly cepat-cepat mematikan computer dan bergegas keluar kantor menuju "Shutle Bus". Setengah jam di tunggu, bus tidak juga kedengaran derunya apalagi batang hidungnya. Setengah putus asa akahirnya kami jalan kaki pulang dari gedung admin menuju camp, berjalan di antara rimbunya hutan dalam gelap tanpa korek api dan senter, ditemani serunya suara guntur dan kilat makin melengkapi perjalanan yang mendebarkan.

Jalan yang biasanya terasa dekat di kala siang hari, malam itu terasa jauh dan melelahkan. Dengan langkah terburu-buru kami setengah berlari untuk menghindari hujan yang nampaknya akan turun. Ketika kami melewati simpangan kantor "MINING" kami mendengar suara riuh rendah anjing pemburu.

Hati kami terasa kecut membayangkan jika anjing-anjing itu salah sasaran. Sepuluh langkah kami lewati nampak pemandangan berpuluh-puluh anjing pemburu menggonggong dan berlari-lari kecil didepan 5-6 penduduk setempat dengan "LANJUNG" di kepala, MANDAU di pinggang serta tak lupa TOMBAK di tangan kanan, sementara tangan kirinya menjinjing lampu.

Kami berjalan agak menepi ke kiri memberi kesempatanan rombongan pemburu babi hutan itu lewat, yang kami lakukan saat itu hanya tidak melakukan gerakan yang tidak biasa agar kami tidak menjadi sasaran para anjing - anjing itu. Dalam hitungan kurang dari 5 menit akhirnya kami benar-benar berhadapan langsung dengan rombongan itu. Jantung bedetak semakin kencang, sambil komat-kamit mengucapkan do'a kami pun berjalan agak merunduk. Ini kami lakukan agar tidak terjadi salah paham dan salah sasaran.

Sempat terlintas di pikiran saya, seandainya para pemburu salah mendeteksi kami dan mengkomando anjing-anjingnya, maka dalam sekejab kami akan bernasib seperti babi-bai hutan itu. Ngeri dan menyeramkan.

Setelah semua anggota rombongan melewati kami, hati tersa lega dan kuputuskan sekarang langkah harus di ganti dengan lari dan lari. Kami terus berlari tanpa pedulu bahwa jalan yang kami lewati tidak mulus karena penuh batu besar yang lepas dari tempatnya. bagi kami saat itu, menghindar secepat mungkin jangan sampai rombongan pemburu itu berubah pikiran.

Sambil terus berlari dan nafas yang ngos -ngosan akhirnya kami melihat dari kejauhan se titik lampu pos satpam di pintu masuk camp. Senang, gembira dan bersyukur itulah yang kami rasakan malam itu. Ternyata kami masih hidup.

Sejak kejadian malam itu, saya dan Nolly memuturkan tidak akan lembur lagi jika tidak ada kendaraan stand by..........