Seperti biasanya, sebagai staff accounting jam kerja saya sedikit lebih panjang dibandingkan dengan staff lain, apalagi pas ngejar dead line bikin
monthly report. Malam itu seperti biasanya saya dan Nolly lembur berdua di kantor admin yang kira-kira jaraknya 2 km dari camp. Di luar nampak awan tebal menggelayut di ujung langit dan sesekali terlihat kilauan kilat yang bercengkrama dengan pekatnya malam.
Saya dan Nolly cepat-cepat mematikan computer dan bergegas keluar kantor menuju "Shutle Bus". Setengah jam di tunggu, bus tidak juga kedengaran derunya apalagi batang hidungnya. Setengah putus asa akahirnya kami jalan kaki pulang dari gedung admin menuju camp, berjalan di antara rimbunya hutan dalam gelap tanpa korek api dan senter, ditemani serunya suara guntur dan kilat makin melengkapi perjalanan yang mendebarkan.
Jalan yang biasanya terasa dekat di kala siang hari, malam itu terasa jauh dan melelahkan. Dengan langkah terburu-buru kami setengah berlari untuk menghindari hujan yang nampaknya akan turun. Ketika kami melewati simpangan kantor
"MINING" kami mendengar suara riuh rendah anjing pemburu.
Hati kami terasa kecut membayangkan jika anjing-anjing itu salah sasaran. Sepuluh langkah kami lewati nampak pemandangan berpuluh-puluh anjing pemburu menggonggong dan berlari-lari kecil didepan 5-6 penduduk setempat dengan "LANJUNG" di kepala, MANDAU di pinggang serta tak lupa TOMBAK di tangan kanan, sementara tangan kirinya menjinjing lampu.
Kami berjalan agak menepi ke kiri memberi kesempatanan rombongan pemburu babi hutan itu lewat, yang kami lakukan saat itu hanya tidak melakukan gerakan yang tidak biasa agar kami tidak menjadi sasaran para anjing - anjing itu. Dalam hitungan kurang dari 5 menit akhirnya kami benar-benar berhadapan langsung dengan rombongan itu. Jantung bedetak semakin kencang, sambil komat-kamit mengucapkan do'a kami pun berjalan agak merunduk. Ini kami lakukan agar tidak terjadi salah paham dan salah sasaran.
Sempat terlintas di pikiran saya, seandainya para pemburu salah mendeteksi kami dan
mengkomando anjing-anjingnya, maka dalam sekejab kami akan bernasib seperti
babi-bai hutan itu. Ngeri dan menyeramkan.
Setelah semua anggota rombongan melewati kami, hati tersa lega dan kuputuskan sekarang langkah harus di ganti dengan lari dan lari. Kami terus berlari tanpa pedulu bahwa jalan yang kami lewati tidak mulus karena penuh batu besar yang lepas dari tempatnya. bagi kami saat itu, menghindar secepat mungkin jangan sampai rombongan pemburu itu berubah pikiran.
Sambil terus berlari dan nafas yang ngos -ngosan akhirnya kami melihat dari kejauhan se titik lampu pos satpam di pintu masuk camp. Senang, gembira dan bersyukur itulah yang kami rasakan malam itu. Ternyata kami masih hidup.
Sejak kejadian malam itu, saya dan Nolly memuturkan
tidak akan lembur lagi jika tidak ada kendaraan stand by..........