Kamis, Juni 18, 2009

Air Terjun Sungai MENAWING


Bekerja di tengah belantara Kalimantan Tengah dengan aktivitas yang serba monoton dan "itu-itu saja" sering mematikan kreativitas dan ide-ide brillian lainya. Jam kerja dengan ritme.......6 to 6, six to six...6 to 6 terus membayang setiap hari. Berangkat jam 6 pagi dan pulang jam 6 petang adalah menu harian selama 4 minggu penuh. Hari minggu sedikit ada pengecualian karena bisa pulang lebih cepat atau sekitar jam 3 sore.

Jam kerja yang sangat panjang yang monoton ini lah yang akhirnya membuat para "Pekerja Tambang" sedikit kedododoran melepaskan hobby dan kegemarannya. Yang memungkinkan hanya sekedar olah raga bulutangkis, bola volley, fitness dan sejenisnya. Sisanya memelototi siaran TV kabel yang filmnya selalu itu-itu saja pindah dari HBO, MAX, Hallmark, Star Movie, AXN dan channel-channel yang lain.

Setiap minggu karena itu "Hari Istimewa" biasanya kami para pekerja tambanng melakukan aktivitas yang sedikit berbeda dari rutinitas sehari-hari. Ada yang naik ke Gunung Muro, Air Terjun sengai Menawing dan ada yang berburu durian di hutan.

Minggu itu, sesuai kesepakatan, Saya, Asran, Yudi, Usah, Mas Joko dan Nolly sepakat untuk cari "Durian Runtuh" di hutan sekitar air terjun sungai Menawing. Jam 15.30 kami siap dengan sepati kets dan pakaian olah raga. Perjalanan kami menerobos belakang JS 10 melewati kampung penduduk asli. Dari kejauhan saya sudah mendengar saut-sautan suara anjing. Kembali terbayang peristiwa malam itu ketika saya dan Nolly terpaksa berpapasan dengan rombongan pemburu babi hutan.

Namun karena hari ini siang dan masih terang benderang saya berpikir nggak akan se seram tempo hari. Disamping itu rombongan kita ada 6 orang, jadi nggak terlalu takutlah. 1 jam tak terasa kami berlari-lari sore sambil lirik kiri - kanan akhirnya kami betul - betul melewati perkampungan itu. Tak kusangka ternyata dalam perkampungan itu rada padat dan anjingnya memang berkeliaran. Dari jauh juga nampak para bapak - bapak yang sedang memegang tombak berburu. Seketika nyali pun ciut, namun karena semua teman-teman sepertinya tidak ada rasa gentar sayapun dengan hati sedikit getir mengikuti langakah teman teman melaju menuju air terjun Menawing.

Asran dan Yudi sebagi initiator "petualangan" ini sepertinya sangat antusias dan bisa meyakinkan kami bahwa di depan sana ada banyak "Durian Runtuh" dan "Pemandangan Indah" air terjun Sungai menawing. Yang lain tetap semangat untuk terus menjadi pendukug 2 teman saya tadi, tapi tidak buat saya.

Saya lirik arloji ditangan sudah menunjukkan pukul 5 sore dan belum bertemu yang namanya durian runtuh dan hanya terdengar sayup-sayup suara air terjun. Saya bisa memprediksi itu masih sekitar setengah perjalanan lari-lari kecil sambil menerobos hutan liar disekeliling jalan setapak yang kami lalui. Otak accounting saya mengolah semua data dan pendengaran menjadi suatu kesimpulan. Jika tetap nekat sampai ke Air Terjun, maka perlu setengah jam, artinya jam 5.30 baru sampai di sana. Mandi 30 menit artinya jam 18.00 masih di tengah hutan tanpa membawa senter dan korek api. Ini konyol namanya. Maka sebelum terlanjur akhirnya akupun menyerah dan bilang pada rombongan bahwa saya akan balik ke camp duluan.

Celaka, ternyata tak satupun dari rombongan setuju dengan ide saya. Akhirnya saya terpaksa balik ke camp sendirian. Tersirat mega jingga di ufuk barat di hiaasi awan tipis yang sedang berarak ke peraduan. Dengan ilmu nekad, akhirnya ku ikuti langkah kaki kembali ke camp. Satu hal yang saya lupa, di depan saya akan melewati perkampungan yang banyak anjing pemburunya. Saya kuatkan tekad terus berlari dan tak lupa mulutpun "komat-kamit" membaca segala do's agar perjalanan ke camp selamat tanpa cedera.

Benar, sejurus kemudian saya bisa merasakan aura yang nggak enak. Merinding campur takut dan deg-degan saling mengaduk-aduk pikiran dan perasaan. Terlalu ngeri untuk dibayangkan. Di depan mata saya puluhan anjing buru berlarian kesana kemari bercengkrama antara yang satu dengan yang lain. Kuputuskan untuk berhenti berlari dan hanya berjalan kaki. Menurut pengalaman, anjing akan selalu mengejar sesuatu yang berlari.

Dugaan saya benar, saya akhirnya "Selamat" melewati kampung itu dan kira - kira 100 meter kaki melangkah, akhirnya ku putuskan "Lari Tunggang Langgang". Ini keputusan yang harus di ambil karena terpaksa oleh rasa Takut, Ngeri dan Trauma.

Jam 18.15 akhirnya saya sampai di camp dalam keadaan selamat. Lecet-lecet di sekujur kaki tidak perlu dihiraukan. Ini adalah resiko yang harus "di bayar" karena mengikuti ide konyol yang "tak terukur".

Itung-itung sebagai "uji nyali" ........(ngeriiiii.........)

Tidak ada komentar: