Rabu, Juni 24, 2009

KELOTOK MAUT

Kelotok adalah sejenis perahu yang sering hilir mudik di sepanjang sungai-sungai di Kalimantan. Di sepanjang aliran sungai barito kelotok punya keluarga dengan urutan yang terkecil adalah Jukung, Ketinting, Kelotok dan yang besar namanya Bus Air. Jukung dikayuh dengan dayung dan biasanya hanya terdiri dari 1 atau 2 orang penumpang, semantara Ketinting sudah pakai mesin kecil dan bisa muat 5-6 orang tergantung. Klotok juga pakai mesin yang lebih besar dan bisa membawa 15-25 penumpang tergantung ukuranya. Sedangkan kalau Bus Air bisa menampung bahkan 90 - 100 penumpang.

Di sepanjang aliran Sungai Barito alat transportasi ini banyak hilir mudik mengangkut penumpamg yang memang dari segi infrastruktur jalan darat belum memadai. Transportasi air ini masih ada speed boat yang biasanya di miliki beberapa perusahaan yang ada di daerah sana.

Ada cerita yang cukup menarik tentang Kelotok ini. Gara - gara alat transport ini Mas Joko dan teman nyaris hilang di telan derasnya sungai Barito. Seperti biasanya, mas Joko, Asran, Yudi dan beberapa teman lainya hendak jalan - jalan menggunakan kelotok. Karena setiap hari minggu "orang-orang tambang" pulang kerja lebih cepat atau jam 15.00, maka dengan antusias rombongan hendak jalan-jalan ke Puruk Cahu.

Sore itu langit sangat cerah dan sungai barito memamerkan aliranya yang tenang. Rombongan kecil itu kira - kira terdiri dari 6-8 orang. Setelah sepakat berangkat akhirnya mereka di hantar oleh kelotok biru itu membelah heningnya Sungai Barito. Dua jam berikutnya rombongan melewati sebuah kampung pinggir sungai yang sore itu pas pukul 17.00. Sebagaimana kebiasaan masyarakat kampung setempat, mereka semua mengandalkan Sungai Barito sebagai sarana MCK. Bisa ditebak maka jam segitu pasti banyak anak-anak, remaja dan orang tua mandi di sepanjang pinggir Sungai Barito.

Tentu saja moment ini jadi hiburan tersendiri bagi rombongan tersebut. Karena tidak mau ketinggalan, sang sopir kelotokpun naik ke atap dan menyetir dengan menggunakan kaki. Untung tak dapat di raihsecara tidak sadar laju kelotok mengaran ke sebuah Jukung yang kebetulan melintas memotong perjalanan sang Kelotok pengembara.

Sadar kelotoknya salah jalur degan cepat sang sopir berusaha menguasai kemudi sambil teriak sekencang-kencangnya kepada pak tua agar segera menyingkir. Sekian teriakan tidak di gubris pak tua pengemudi Jukung. Akhirnya tabrakan pun tak bisa dihindari. Jukug pak tua akhir nya pecah dan tenggelam. Begitu juga dengan nasib si kelotok pun akhirnya oleng dan terhempas di tengah - tengah sungai Barito. Dengan reflek akhirnya rombongang berusaha keras menyelamatkan diri. Untungnya semua penumpang klotok mampu mengarungi lebarnya sungai Barito hingga ke tepi sungai.

Setelah semua selamat termasuk pak tua, baru ketahuan kalau pak tua itu tuli, makanya ketika di teriakin untuk minggir sebelum tabrakan tak ada reaksi.

Tidak ada komentar: