Minggu, Agustus 09, 2009

DIHADANG DAN DI ANCAM

Ada hal paling aneh dan tidak lumrah kehidupan di Sumatra Selatan. Apa saya yang ngak terbiasa atau mereka yang "luar biasa" saya pun tidak tahu pasti. Ketika kita mau minta sesuatu dari orang lain, saya di biasakan dengan pertunjukan-pertunjukan dan contoh-contoh agar kira berbaik-baik dengan orang itu. Dengan bersikap demikian, maka kita harapkan kita lebih mudah untuk minta pertolongan atau bantuan dengan orang tersebut.

Pengalaman yang satu ini bagi saya terlalu ganjil. Pagi itu kami berlima, Ivan, Fath, Maryono, Rahiman dan saya sendiri berangkat dari Lubuk Linggau jam 5 pagi. Cuaca cerah sedikit berkabut karena asap huta yang terbakar. Setelah masuk mobil, sayapun terlelap lagi karena malamnya harus begadang nungguin anak yang sedang sakit dan Rewel.

Musik dangdut langganan kami yang di sajikan pak Sukri sepertinya pagi itu terlalu lembut sehingga matapun tak bisa kompromi dan tertutup otomatis alias tertidur. Kira - kira satu jam perjalanan akhirnya saya pun terhenyak dari lelap tak sengaja itu karean pak mobil pak Sukri menghantam batu yang cukup besar di simpang danau Karang Jaya. Akhinya kami se mobil terhenyak dan seketika mata terbuka. Kamipum melaju seperti biasa dan tidak terjadi apa-apa. Kami melewati desa Muara Tiku dan akan melewati desa Suka Menang.

Dari jauh nampak bis karyawan perusahaan kami terlihat timbul tenggelam terhalang oleh tanjakan jalan yang naik-turun. Setelah melewati tanjakan tinggu dan siap menukik turu, tiba-tiba pak Sukri menghentikan mobilnya. Tanpa ada rambu-rambu apapun rupianya sebuah balok berukuran kira-kira 10 x 10 dan panjang 4 meter sudah melintang di tengah jalan. Dari kejauhan nampak 2 orang pemuda dengan wajah garang sampil memegang pisau.

Hatipun ciut dibuatnya oleh situasi seperti ini di awal pagi. Setelah mobil yang kami tumpangi mendekat ke 2 pemuda itu, kamipun di suruh berhenti. Dengan roman muka yang penuh amarah satu dari 2 pemuda itu bertanya.

"Siap0 yang menentukandi terimo tidaknyo aku kerjo di sano, apo pak Ivan, apo HRD atau apo Malaikat".

Sayapun bingung, apakah dengan cara seperti ini kalau ingin cari kerja. Karena kami tidak mau ribut akhirnya 2 pemuda itupun kita suruh ikut di mobil dan kita minta datang ke kantor. Bukan tugas dan tanggung jawab kami untuk menentukan di terima atau tidaknya seseorang pelamar kerja.

Dalam hati saya hanya berpendapat, seandainya kita mau minta tolong kepada orang lain, apa layak kita tempelkan sebuah pisau di leher orang tersebut. Bukankah sebaiknya kalau kita mau meminta, kita harus merendah dan sopan?.

MASKER DAN KEHAMILAN

Sudah bukan hal yang aneh, setiap musim kemarau pembakaran hutan sangat marak di sekitar Lubuk Linggau. Alasan yang paling umum pembakaran adalah pembukaan lahan untuk kebun kelapa sawit, namun benar tidaknya alasan ini susah di percaya. Banyak orang berpendapat untuk kebun karet bahkan ada yang bilang karena terbakar senidri, sulit memang mencari kepastian akibat kebakaran ini jika api sudah melalap semak-semak dan pepohonan.

Akibatnya, jalan-jalan pasti tertutup asap tebal dan di samping baunya yang menyengat efek di mata juga sangat pedih. Semua itu pastia akan merugikan kesehatan terutama penyakit yang berhubungan dengan pernafasan dan pengelihatan. Makanya selama "MUSIM ASAP" ini saya harus terus-menurus memakai masker. Masker yang saya pakai pun tidak cukup dengan masker kain seperti yang di pakai dokter kalau periksa pasien.

Kami menggunakan masker seperti layaknya ahli kimia yang sedang bekerja di lab menghindari zat radioaktif. Dengan faslitas filter di kiri dan kanan masker yang saya pakai, asap cukup effektif saya saring. Namun efeknya bernafas jadi lebih berat dan bergerak kurang bebas.

Saya memakai masker jenis ini bila berangkat kerja selam di kendaraan atau ketika harus keluar rumah. Bahkan istri saya yang lagi hamil ana pertama kamipun tak luput dari cara ini. Bahkan sampai-sampai ketika kami mau tidurpun kadang masker tetap harus terpasang. Ini adalah cara hidup yang sangat ganjil sebenarnya, tapi demi kesehatan kami, apapun akan kami lalukan.

Akibat kabut asap ini yang pasti, selain perih dimata, sesak pernapasan, udara di sekitar kitapun sangat panas. Sehingga emosipun kadang susah di kontrol.

ORGAN TUNGGAL

Kerja di Site yang jauh dari kota Lubuk Lingau biasanya kami tempuh dengan kendaraan sewaan. Salah satunya milik pak Sukri dengan Mitsubishi ST-nya. Karena pak Sikri orang Lubuk Linggau maka dia sangat paham situasi disana termasuk liku-liku jalan tikusnya. Saya biasanya berangkat dari Lubuk Linggau menuju Karang Jaya-Musi Rawan pukul 05.00 pagi dan kembali kerumah rata-rata jam 19.00

Perjalanan Lubuk Linggau sampai site di tempuh kurang lebih 1 setengah jam dan selama perjalanan pak Sukri "Alkatiri" (panngilan akrab kami), selalu memutar musik-musik berirama melau atau dangdut. sehingga tak heran saya pun banyak tahu lagu-lau Meggy Z, Cacha Handika, Mansyur S, Mega Mustika, Jhony Iskandar dan lain-lain.

Rupanya kebiasaan warga disana setaip kali ada hajatan atau khitanan, maka mereka mengundang Organ Tunggal atau pemain Keybord Midi sendirian yag hanya di temani vokalis alias penyanyi. Dengan kecanggihan teknologi, maka untuk urusan menghibur tamu undangan cukup diwakili satu alat yang bernama keyboard alias elektone maka suara gitas, bas, ketipung dan suling udah ada. Tinggal menunggu kepiawaian operatotnya untuk mampu meramu dan menghasilkna musik yang enak di dengar.

TEMPOYAK - EMPEK-EMPEK - NASI PADANG

Setelah sekian lama tinggal di Sumtra Selatan, akhirnya saya terbiasa dengan berbagai masakan di sana. Tidak jauh dari menu di Jawa, namun ada 1 atau 2 masakan yang sedikit aneh terasa di lidah saya. Salah satunya adalah TEMPOYAK. Makanan ini terbuat dari durian yang di beri bumbu semacam sambel dan biasanya memang berfungsi layaknya sambel.

Bagi saya makanan ini terlalu aneh dengan selera jawa saya. Hal yang sangat saya suka adalah empek-empek palembang dan Nasi Padang. Di sekitar Lubuk Linggau empek-empek hampir bisa di temuai di berbagai pasar dan rumah makan. Selain harganya yang sangat terjangkau, disana jenisnya sangat bervariasi. Awalnya pun heran, bagaimana orang-orang di sana bisa sarapan empek-empek lengkap dengan cukanya di pagi hari. Saya jamin orang yang punya sakit maag pasti akan berpikir dua kali untuk sarapan menu empek-empek.

Disana, ada cara yang nggak biasa buat saya untuk menikmati empek-empek. Di setiap warung empek-empek akan disediakan gelas kecil seperti sloki. Cara menikmati empek-empeknya cukut gigit empek-empeknya trus hiryp cukanya dari sloki baru di kunyah di mulut dan ditelan. Oeang yang baru pertama mencoba cara ini agar berhati-hati, bisa - bisa tersedak kuah empek-empek. Sakit sekali rasanya, sayapun pernah mengalaminya. Saat itu empek-empek yang terkenal d Palembang adalah empek-empek pak Raden dan empek-empek Noni.

Selain Tempoyak, Empek-empek ada masakan khas Padang yang sangat berbeda di Lubuk Linggau. Selain menunya yang sangat lengkap seperti, gulai ikan, ayam, daging cincang, rendang, paru goreng dan lain-lain, disana lalapan nya cukup komplit. Mulai dari kacang panjang, daun kol, ketimun, daun kemangi, terong ungu sampai terong kecil semalam luncai. Pemyajiannya lauk-lauk itupun selalu di hampar di meja makan kita. Tinggal pilih mana yang disuka, tapi jangan ambil sedikit setiap piring dari lauk yang di hampar di meja tadi, karena ambil sedikit atau banyak akan dihitung 1 porsi, khususnya lauk-pauk yang berkuah. Jadi kalu kantong lagi tipis, mending pilih yang paling cocok.

Satu hal yang unik dari warung padang di Lubuk Linggau dan sekitarnya adalah, selalu ada botol yang di isi air. Bagi oarang awam akan mengganggap air dalam botol itu adalah air minum gratis. Padahal itu adalah air untuk cuci tangan sebelum acara makan dimulai. Saya pun hampir salah mengerti, untungnya ada pak Ali, driver kita yang ngasih tahu. Yang rada aneh adalah rendangnya, pada umumnya masakan rendang di sana di campur kentang kecil-kecil tanpa di kupas kulitnya.

Trik makan enak dan murah pernah saya praktekkan selama di sana, layaknya iklan subuah rokok....Asyiknya rame-rame. Saya pun kalau pesan nasi padang cukup pesan sau piring nasi, kasih telor trus minta krupuk kulit (krupuk JANGEK, istilah di sana red.) taruh dipiring dan di SIRAM kuah ayam. Maka ketika di kasir cukup bayar Nasi Telor plus krupuk, kuah ayam nggak pake bayar. Ehm....jadi laper nih.....

Kapan ya bisa jalan-jalan ke Lubuk Linggau....