
Setelah dinyatakan lulus Test dan Interview saatnya saya harus bekerja di Tengah Hutan Belantara pedalaman Kalimantan Tengah. Dengan naik pesawat Casa 212 buatan Dirgantara, saya membelah lebatnya hutan Kalimantan. Satu jam 15 menit waktu yang cukup melelahkan di kabin pesawat yang hanya mampu mengangkut 16 penumpang dengan 2 baling-baling sebagai tenaganya.
Pesawat Casa akhirnya mendarat di Air Strip,istilah untuk bandara kecil yang berada diantara bukit dan rindangnya hutan belantara Kalimantan Tengah. Badan lelah tapi hati riang. Akhirnya kesampaian juga keinginan dapat kerjaan permanen apalagi perusahaan asing yang bergerak di bidang tambang Emas. Bangga dan bersyukur bisa lolos Test dan Interview.
Masuk jam 7 pagi pulang jam 5 sore adalah working hour yang harus kulalui setiap hari. Bekerja di tengah hutan belantara dengan sistim kerja 6 minggu on dan 2 minngu off adalah pengalaman yang menyenangkan sekaligus membosankan. Bayangkan selama 6 minggu penuh harus bekerja dan tidak perduli minggu maupun tanggal merah harus tetap kerja dan baru bisa libur untuk kembali ke Balikpapan selama 2 Minggu setelahnya.
Pulang kerja biasanya aku lewati dengan nonton atau olah raga ringan semacam bulu tangkis. Di sana saya banyak bergaul dengan para pekerja dari berbagai etnis, dari Sabang sampai Merauke bahkan sampai para Expat dari negeri Kangoroo.
3 Bulan berikutnya ternyata teman seperjuangan ketika test dan interview harus juga meninggalkan tempat kerja karena dia tidak lulus provision. Praktis tinggal saya yang bertahan.
Hari berganti hari, Minggu berganti Minggu dan Bulan berganti Bulan. Hidup di hutan 6 minggu dan kembali ke kota selama 2 minggu adalah rutinitas hidup saya selanjutnya. Tak terasa 1 Tahun terlewati dan sayapun berhak menyandang status pekerja di hutan alias "Orang Hutan". Mutasi personal yang ada di sekeliling, hampir terjadi setiap hari. Pindah keperusahaan lain atau sekedar meninggalkan pekerjaan karena kejenuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar