Kamis, Mei 22, 2008

PESAWAT BAU KENTUT


Menunggu giliran cuti alias libur selama 2 minggu stelah bekerja di tengah hutan belantara Kalimantan selama 6 minggu adalah saat yang sangat "excited". Tiga hari menjelang hari H untuk off adalah hari yang terasa sangat panjang, apalagi jika nama udah tertulis di manifest, maka sejak saat itu kerja jadi tidak konsen. Ingin rasanya siang cepat berganti malam.

Biasanya 1 pesawat Cassa 100 di isi oleh 12 sampai 16 penumpang. Dan perjalanan ke Balikpapan bisa ditempur dalam waktu 2 jam 15 menit. Terombang ambing di atas awan akibat cuaca buruk atau ulah pilot yang berjiwa "pembalap" menambah pengalaman yang tak terlupakan.

Ada satu hal yang sangat menggelikan kala diingat. Saat itu hari sabtu sebagaimana biasa jadwal meninggalkan hutan belantara menuju Balikpapan jam 11 siang. Pesawat mendarat mulus di airstrip perusahaan. Tidak biasanya pesawat merendah agak jauh dari landasan pacu dan mendarat mulus langsing belok ke Apron. Begitu pesawat parkir ternya pilot "strip" 4 yang keluar dari kokpit. Makanya tidak heran kalau landing cukup 1/2 landasan.

Siang itu sangat cerah bahkan tidak ada siluet awan tipis menggelayung di ujung langit. Dengan suasana riang, check in selesai dengan lancar, hanya tinggal menunggu satu penumpang bule yang rada telat. Akhirnya datang juga si bule setelah 5 menit penumpang boarding dan duduk manis di dalam pesawat.

Dengan mimik muka yang kecut akhirnya pesawat siap tancap gas. Mulus megangkasa meninggalkan bangunan apron yang semakin mengecil seiring semakin tingginya pesawat mengudara. Sepuluh menit pesawat mengangkasa, tiba-tiba pesawat terumbang ambing seperti mobil yang melewati jalan tidak rata. Kadang naik kadang menukik tajam. Isi perut bagai di kocok dan mau tumpah. Untunglah hanya sekitar 5 ini terjadi. Saya coba lihat dari balik jendela pesawat casaku, ternyata diluar cuaca cerah dan tidak ada alasan untuk sang pilot "menyetir" dengan ugal-ugalan. Nah, saya baru ingat omongan teman. Biasanya kalau sang pilot lagi "bete" penumpang biasanya di "kerjain". Wah jangan2 gara lama menunggu 1 bole tadi pilot jadi senewen. Nasib-Nasib........

Seperti biasa 1/2 jam penerbangan biasanya saya tertidur lelep, tak perdulu bisingnya suara mesin baling-baling pesawat casa di samping jendelaku. Mataku tertutup rapat, telinga tertutup rapat oleh "ear plug" hanya mulut yang kadang menganga sambil mendengkur menikmati tidur siang di atas awan. Tiba tiba hidungku terstusuk oleh bau yang sangat tak sedap. Bau sampah, bau ikan asin dan bau bangkai berpadu jadi satu. Baru aku sadar ternyata ini bau "kentut". Sumaph serapah akhirnya terucap walaupun dalam hati. Siapakah gerangan yang tega buang gas dalam pesawat sempit ini.

Dengan rasa Geli, lucu dan marah tapi dalam hati akhirnya pasrah saya umbar saja bau kentut itu melayang-layang sampai hilang. Buka jendela pesawat kan tidak mungkin ini kan bukan naik bis batinku.

Tidak ada komentar: