Minggu, Agustus 09, 2009

DIHADANG DAN DI ANCAM

Ada hal paling aneh dan tidak lumrah kehidupan di Sumatra Selatan. Apa saya yang ngak terbiasa atau mereka yang "luar biasa" saya pun tidak tahu pasti. Ketika kita mau minta sesuatu dari orang lain, saya di biasakan dengan pertunjukan-pertunjukan dan contoh-contoh agar kira berbaik-baik dengan orang itu. Dengan bersikap demikian, maka kita harapkan kita lebih mudah untuk minta pertolongan atau bantuan dengan orang tersebut.

Pengalaman yang satu ini bagi saya terlalu ganjil. Pagi itu kami berlima, Ivan, Fath, Maryono, Rahiman dan saya sendiri berangkat dari Lubuk Linggau jam 5 pagi. Cuaca cerah sedikit berkabut karena asap huta yang terbakar. Setelah masuk mobil, sayapun terlelap lagi karena malamnya harus begadang nungguin anak yang sedang sakit dan Rewel.

Musik dangdut langganan kami yang di sajikan pak Sukri sepertinya pagi itu terlalu lembut sehingga matapun tak bisa kompromi dan tertutup otomatis alias tertidur. Kira - kira satu jam perjalanan akhirnya saya pun terhenyak dari lelap tak sengaja itu karean pak mobil pak Sukri menghantam batu yang cukup besar di simpang danau Karang Jaya. Akhinya kami se mobil terhenyak dan seketika mata terbuka. Kamipum melaju seperti biasa dan tidak terjadi apa-apa. Kami melewati desa Muara Tiku dan akan melewati desa Suka Menang.

Dari jauh nampak bis karyawan perusahaan kami terlihat timbul tenggelam terhalang oleh tanjakan jalan yang naik-turun. Setelah melewati tanjakan tinggu dan siap menukik turu, tiba-tiba pak Sukri menghentikan mobilnya. Tanpa ada rambu-rambu apapun rupianya sebuah balok berukuran kira-kira 10 x 10 dan panjang 4 meter sudah melintang di tengah jalan. Dari kejauhan nampak 2 orang pemuda dengan wajah garang sampil memegang pisau.

Hatipun ciut dibuatnya oleh situasi seperti ini di awal pagi. Setelah mobil yang kami tumpangi mendekat ke 2 pemuda itu, kamipun di suruh berhenti. Dengan roman muka yang penuh amarah satu dari 2 pemuda itu bertanya.

"Siap0 yang menentukandi terimo tidaknyo aku kerjo di sano, apo pak Ivan, apo HRD atau apo Malaikat".

Sayapun bingung, apakah dengan cara seperti ini kalau ingin cari kerja. Karena kami tidak mau ribut akhirnya 2 pemuda itupun kita suruh ikut di mobil dan kita minta datang ke kantor. Bukan tugas dan tanggung jawab kami untuk menentukan di terima atau tidaknya seseorang pelamar kerja.

Dalam hati saya hanya berpendapat, seandainya kita mau minta tolong kepada orang lain, apa layak kita tempelkan sebuah pisau di leher orang tersebut. Bukankah sebaiknya kalau kita mau meminta, kita harus merendah dan sopan?.

MASKER DAN KEHAMILAN

Sudah bukan hal yang aneh, setiap musim kemarau pembakaran hutan sangat marak di sekitar Lubuk Linggau. Alasan yang paling umum pembakaran adalah pembukaan lahan untuk kebun kelapa sawit, namun benar tidaknya alasan ini susah di percaya. Banyak orang berpendapat untuk kebun karet bahkan ada yang bilang karena terbakar senidri, sulit memang mencari kepastian akibat kebakaran ini jika api sudah melalap semak-semak dan pepohonan.

Akibatnya, jalan-jalan pasti tertutup asap tebal dan di samping baunya yang menyengat efek di mata juga sangat pedih. Semua itu pastia akan merugikan kesehatan terutama penyakit yang berhubungan dengan pernafasan dan pengelihatan. Makanya selama "MUSIM ASAP" ini saya harus terus-menurus memakai masker. Masker yang saya pakai pun tidak cukup dengan masker kain seperti yang di pakai dokter kalau periksa pasien.

Kami menggunakan masker seperti layaknya ahli kimia yang sedang bekerja di lab menghindari zat radioaktif. Dengan faslitas filter di kiri dan kanan masker yang saya pakai, asap cukup effektif saya saring. Namun efeknya bernafas jadi lebih berat dan bergerak kurang bebas.

Saya memakai masker jenis ini bila berangkat kerja selam di kendaraan atau ketika harus keluar rumah. Bahkan istri saya yang lagi hamil ana pertama kamipun tak luput dari cara ini. Bahkan sampai-sampai ketika kami mau tidurpun kadang masker tetap harus terpasang. Ini adalah cara hidup yang sangat ganjil sebenarnya, tapi demi kesehatan kami, apapun akan kami lalukan.

Akibat kabut asap ini yang pasti, selain perih dimata, sesak pernapasan, udara di sekitar kitapun sangat panas. Sehingga emosipun kadang susah di kontrol.

ORGAN TUNGGAL

Kerja di Site yang jauh dari kota Lubuk Lingau biasanya kami tempuh dengan kendaraan sewaan. Salah satunya milik pak Sukri dengan Mitsubishi ST-nya. Karena pak Sikri orang Lubuk Linggau maka dia sangat paham situasi disana termasuk liku-liku jalan tikusnya. Saya biasanya berangkat dari Lubuk Linggau menuju Karang Jaya-Musi Rawan pukul 05.00 pagi dan kembali kerumah rata-rata jam 19.00

Perjalanan Lubuk Linggau sampai site di tempuh kurang lebih 1 setengah jam dan selama perjalanan pak Sukri "Alkatiri" (panngilan akrab kami), selalu memutar musik-musik berirama melau atau dangdut. sehingga tak heran saya pun banyak tahu lagu-lau Meggy Z, Cacha Handika, Mansyur S, Mega Mustika, Jhony Iskandar dan lain-lain.

Rupanya kebiasaan warga disana setaip kali ada hajatan atau khitanan, maka mereka mengundang Organ Tunggal atau pemain Keybord Midi sendirian yag hanya di temani vokalis alias penyanyi. Dengan kecanggihan teknologi, maka untuk urusan menghibur tamu undangan cukup diwakili satu alat yang bernama keyboard alias elektone maka suara gitas, bas, ketipung dan suling udah ada. Tinggal menunggu kepiawaian operatotnya untuk mampu meramu dan menghasilkna musik yang enak di dengar.

TEMPOYAK - EMPEK-EMPEK - NASI PADANG

Setelah sekian lama tinggal di Sumtra Selatan, akhirnya saya terbiasa dengan berbagai masakan di sana. Tidak jauh dari menu di Jawa, namun ada 1 atau 2 masakan yang sedikit aneh terasa di lidah saya. Salah satunya adalah TEMPOYAK. Makanan ini terbuat dari durian yang di beri bumbu semacam sambel dan biasanya memang berfungsi layaknya sambel.

Bagi saya makanan ini terlalu aneh dengan selera jawa saya. Hal yang sangat saya suka adalah empek-empek palembang dan Nasi Padang. Di sekitar Lubuk Linggau empek-empek hampir bisa di temuai di berbagai pasar dan rumah makan. Selain harganya yang sangat terjangkau, disana jenisnya sangat bervariasi. Awalnya pun heran, bagaimana orang-orang di sana bisa sarapan empek-empek lengkap dengan cukanya di pagi hari. Saya jamin orang yang punya sakit maag pasti akan berpikir dua kali untuk sarapan menu empek-empek.

Disana, ada cara yang nggak biasa buat saya untuk menikmati empek-empek. Di setiap warung empek-empek akan disediakan gelas kecil seperti sloki. Cara menikmati empek-empeknya cukut gigit empek-empeknya trus hiryp cukanya dari sloki baru di kunyah di mulut dan ditelan. Oeang yang baru pertama mencoba cara ini agar berhati-hati, bisa - bisa tersedak kuah empek-empek. Sakit sekali rasanya, sayapun pernah mengalaminya. Saat itu empek-empek yang terkenal d Palembang adalah empek-empek pak Raden dan empek-empek Noni.

Selain Tempoyak, Empek-empek ada masakan khas Padang yang sangat berbeda di Lubuk Linggau. Selain menunya yang sangat lengkap seperti, gulai ikan, ayam, daging cincang, rendang, paru goreng dan lain-lain, disana lalapan nya cukup komplit. Mulai dari kacang panjang, daun kol, ketimun, daun kemangi, terong ungu sampai terong kecil semalam luncai. Pemyajiannya lauk-lauk itupun selalu di hampar di meja makan kita. Tinggal pilih mana yang disuka, tapi jangan ambil sedikit setiap piring dari lauk yang di hampar di meja tadi, karena ambil sedikit atau banyak akan dihitung 1 porsi, khususnya lauk-pauk yang berkuah. Jadi kalu kantong lagi tipis, mending pilih yang paling cocok.

Satu hal yang unik dari warung padang di Lubuk Linggau dan sekitarnya adalah, selalu ada botol yang di isi air. Bagi oarang awam akan mengganggap air dalam botol itu adalah air minum gratis. Padahal itu adalah air untuk cuci tangan sebelum acara makan dimulai. Saya pun hampir salah mengerti, untungnya ada pak Ali, driver kita yang ngasih tahu. Yang rada aneh adalah rendangnya, pada umumnya masakan rendang di sana di campur kentang kecil-kecil tanpa di kupas kulitnya.

Trik makan enak dan murah pernah saya praktekkan selama di sana, layaknya iklan subuah rokok....Asyiknya rame-rame. Saya pun kalau pesan nasi padang cukup pesan sau piring nasi, kasih telor trus minta krupuk kulit (krupuk JANGEK, istilah di sana red.) taruh dipiring dan di SIRAM kuah ayam. Maka ketika di kasir cukup bayar Nasi Telor plus krupuk, kuah ayam nggak pake bayar. Ehm....jadi laper nih.....

Kapan ya bisa jalan-jalan ke Lubuk Linggau....

Rabu, Juni 24, 2009

PENGEMBARAAN KE SUMATRA

Pertengahan tahun 1997 adalah awal pengembaraan hidup di pulau Andalas alias Sumatra. Senangnya luar biasa ada kesempatan untuk menjejakkan kaki di Pulau Besar ini. Ketika masih di SMA dulu, saya sangat ingin dan bercita-cita hidup di Sumatra. Selain pulau yang luas terlihat subur, itulah yang ada di benak saya ketika itu.

Akhirnya, impian itu terwujud setelah seorang teman Marlieta Karwur yang sudah bekerja di salah satu tambang emas di kawasan Musi Rawas - Sumatra Selatan menawarkan posisi Junior Accountant di sana dengan roster 4 : 2, alias 4 minggu kerja di site (hutan....kata lainya) dan 2 minggu bisa libur dan balik home base di Balikpapan.

Saya pikir ini kesempatan emas, setelah mengalami "Stagnan" kerja di kalimantan Tengah. Dengan antisias saya tandatangai surat kontraknya dan saya kirim balik ke "calon" kantor baru di Sum-Sel sana. Empat belas hari berikutnya saya harus sudah terbang ke Jambi via Cengkareng. Infonya setelah sampai bandara di Jambi akan ada driver yang menjemput namanya Pak Ali dan akan mengantarkan ke Camp kira-kira 6 jam perjalanan ke arah Lubuk Linggau.

Sesuai rencana, akhirnya pesawat merpati yang saya tumpangi dari Bandara Soekarno Hatta cengkareng mendarat mulus di bandara Sultan Thaha Jambi sore itu. Setelah bagasi saya tenteng keluar, ada seorang bapak-bapak yang menuliskan nama saya di kertas A4 dan mengangkatnya. Saya yakin itu adalah driver dari perusahaan yang menjemput saya. Saya datangi dan saya bilang, itu nama saya dan kami pun berkenalan dan langsung menuju mobil L200 warna putihnya.

Saya pikir banyak penumpang yang pak Ali jemput hari itu karena pakai mobil jumbo. Ternyata pak Ali bilang tunggu penumpang lagi istri bos bulenya, namannya Julie Fergus. Wah bakal nggak nyaman nih bareng sama orang bule satu mobil. Seperti biasa kalau expat naik jemputan tidak pernah mau istirahat mampir di warung untuk sekedar isi perut atau bahkan sekedar meluruskan pinggang. Sejurus kemudian muncullah ibu Julie Fergus, si rampur kriting pirang dengan back pack di punggung dan tas jinjing yang tak terlau besar.

Akhirnya setengah jam kemudian saya meninggal kan bandara Sultan Thaha yang kecil tapi bersih dan rapi. Kami meluncur terus menelusuri perkampungan di sekitar bandara yang terkesan sama dengan perkampungan di kota-kota lain. Rapi, bersih dan kelihatan asri. Tak lama kemudain kami memasuki jalan lintas Sumatra. Luar biasa, itulah kesan pertama melintasi "jalan Tol" lintas propinsi ini. Aspal yang mulus, lurus dan sedikit sekali tanjakan, kiri-kanan adalah ladang kebun kelapa sawit milik Lonsum yang saat itu tinngi pohonya baru kira-kita setengah meter. Maka pemandanganya sungguh Indah.

Kira-kira jam 18.30 pak Ali menghentikan mobil bongsornya di sebuah Warung Padang pinggir jalan. Lega, itu kesan pertama saya. Bakal ada kesempatan ngisi perut yang sejak tadi udah mulai keroncongan, maklum perjalanan saya dari Balikpapan dimulai sejak pukul 10 pagi ke Jakarta dan berangkat ke Jambi jam 14.30 dan mendarat di Jambi jam 17.00 belum makan Nasi. Maklum perut local.......he..he, biar makan roti satu bantal kalua belum kena nasi belum puas.

Seperti biasa "si Uda" pelayan warung padang itu dah langsung nurunkan sepiring nasi, plus "menghamparkan" segala lauk-pauk di atas meja. Ada Rendang daging, Gulai Ikan, Sambel goreng hati, Ayam Bakar, Ayam Goreng, Ayam Pop, kikil, sayur nangka dan masih banyak lagi hidangan, lalapan dan sambelnya. Tak sabar rasanya ingin saya santap semuanya, akhirnya pilihanku tentu jatuh pada Ayam Bakar bagian Dada plus Rendang Daging.

"Fauzi, Why you eat using your bare hand, there are a couples Spoon and Fork on the table?". Itu kata-kata yang muncul dari ibu Julie Fergus. Sejenak saya biarkan kerongkongan meluncurkan sekepal nasi yang sudah dicampur ayam bakar, sambel dan kuah ayam. Saya pun akhirnya bingung mau munjawab apa. Biasanya expat pasti perlu jawaban yang logis dan nggak mengada - ada. Karena alasan logicnya nggak punya waktu itu, akhirnya saya bilang " Its our tradition, I don't have any other reasonable reason". Akhirnya dengan "mlongo" dan tampang yang "bego" akhirnya si bule manggut-manggut. Mungkin dia pikir, dasar udik, masak melakukan sesuatu nggak ada alasanya.........

Selesai makan, saya melanjutkan perjalan ke arah Musi Rawas nanti kata pak Ali kita akan melewati Karang Jaya, Muara Tiku, terus ke desa Sukamenang. Setelah itu akan masuk ke jalan bekas logging yang membelah hutan. Kalau di kalkulasi maka sekitar jam 11.00 malam baru sampai camp dengan catatan tidak ada halangan.

Dalam perjalanan ibu Julie Fergus menawarkan camilan yang dia beli di toko sebelah warung padang sore tadi. "You want some, Fauzi?." dan dengan pedenya kujawab "Thank You" tapi saya tidak ada reaksi mau ambil atau tidak. Tiba-tiba si bule nyletuk lagi " Yes, thank you or no thank you?" katanya. Akhirnya saya jawab "no thank you". Karena terbiasa jadi orang jawa makanya biasanya kalau ada orang tua yang nawarin apa saja biasanya saya jawab terima kasih sambil menunduk kan kepala tak lupa pasang senyum tipis menyungging. Rupanya cara seperti itu tidak biasa bagi si bule. Jawabannya harus jelas "Iya, terima kasih" atau "tidak, terima kasih" (.....uuuuhhhhhhhhh ayak-ayak wae)

Tepat jam 11 malam akhirnya saya sampai di camp yang sengaja di bagun diatas bukit, dari situ saya bisa memandang bukit-bukit dan rindangnya belantara hutan di Sumatra Selatan. Dalam hati, besok adalah awal pengembaraan sesungguhnya..............

KELOTOK MAUT

Kelotok adalah sejenis perahu yang sering hilir mudik di sepanjang sungai-sungai di Kalimantan. Di sepanjang aliran sungai barito kelotok punya keluarga dengan urutan yang terkecil adalah Jukung, Ketinting, Kelotok dan yang besar namanya Bus Air. Jukung dikayuh dengan dayung dan biasanya hanya terdiri dari 1 atau 2 orang penumpang, semantara Ketinting sudah pakai mesin kecil dan bisa muat 5-6 orang tergantung. Klotok juga pakai mesin yang lebih besar dan bisa membawa 15-25 penumpang tergantung ukuranya. Sedangkan kalau Bus Air bisa menampung bahkan 90 - 100 penumpang.

Di sepanjang aliran Sungai Barito alat transportasi ini banyak hilir mudik mengangkut penumpamg yang memang dari segi infrastruktur jalan darat belum memadai. Transportasi air ini masih ada speed boat yang biasanya di miliki beberapa perusahaan yang ada di daerah sana.

Ada cerita yang cukup menarik tentang Kelotok ini. Gara - gara alat transport ini Mas Joko dan teman nyaris hilang di telan derasnya sungai Barito. Seperti biasanya, mas Joko, Asran, Yudi dan beberapa teman lainya hendak jalan - jalan menggunakan kelotok. Karena setiap hari minggu "orang-orang tambang" pulang kerja lebih cepat atau jam 15.00, maka dengan antusias rombongan hendak jalan-jalan ke Puruk Cahu.

Sore itu langit sangat cerah dan sungai barito memamerkan aliranya yang tenang. Rombongan kecil itu kira - kira terdiri dari 6-8 orang. Setelah sepakat berangkat akhirnya mereka di hantar oleh kelotok biru itu membelah heningnya Sungai Barito. Dua jam berikutnya rombongan melewati sebuah kampung pinggir sungai yang sore itu pas pukul 17.00. Sebagaimana kebiasaan masyarakat kampung setempat, mereka semua mengandalkan Sungai Barito sebagai sarana MCK. Bisa ditebak maka jam segitu pasti banyak anak-anak, remaja dan orang tua mandi di sepanjang pinggir Sungai Barito.

Tentu saja moment ini jadi hiburan tersendiri bagi rombongan tersebut. Karena tidak mau ketinggalan, sang sopir kelotokpun naik ke atap dan menyetir dengan menggunakan kaki. Untung tak dapat di raihsecara tidak sadar laju kelotok mengaran ke sebuah Jukung yang kebetulan melintas memotong perjalanan sang Kelotok pengembara.

Sadar kelotoknya salah jalur degan cepat sang sopir berusaha menguasai kemudi sambil teriak sekencang-kencangnya kepada pak tua agar segera menyingkir. Sekian teriakan tidak di gubris pak tua pengemudi Jukung. Akhirnya tabrakan pun tak bisa dihindari. Jukug pak tua akhir nya pecah dan tenggelam. Begitu juga dengan nasib si kelotok pun akhirnya oleng dan terhempas di tengah - tengah sungai Barito. Dengan reflek akhirnya rombongang berusaha keras menyelamatkan diri. Untungnya semua penumpang klotok mampu mengarungi lebarnya sungai Barito hingga ke tepi sungai.

Setelah semua selamat termasuk pak tua, baru ketahuan kalau pak tua itu tuli, makanya ketika di teriakin untuk minggir sebelum tabrakan tak ada reaksi.

Selasa, Juni 23, 2009

INDOMIE TELOR


Hidup dan bekerja di tambang dalam hutan belantara sudah pasti kebosanan sering menghantui kehidupan sehari-hari. Mulai dari jam kerja yang monoton, aktivitas yang monoton sampai menu makanan yang monoton.

Walaupun menu yang ditawarkan dari cateting perusahaan sangat "Mewah" tapi karena juru masaknya ya itu-itu saja, makanya rasa makanan yang kita santappun akan "begitu-begitu aja" juga. Perusahaan catering sebenarnya sangat lengkap dalam menyediakan menu dan bahan makanannya. Ada Daging, Ayam, Telor, Ikan dan hampir seluruh sayur dan buah juga tersedia. Tapi karena secara psikologi udah "enek" dan bosan, maka apapaun bahan dasarnya pasti rasanaya sangat standart. Ini mungkin karena para koki terlau irit bumbu sehingga rasa yang dominan adalah ASIN.

Menu harian yang tak pernah hilang dari hari-kehari adalah sayur kol atau kubis. Entah itu di tumis, bikin campuran cap cay maupun bikin mie rebus, pokoknya sayuran ini pasti ada setiap hati. Begitu juga dengan semanga, buah yang satu ini adalah jenis buah-buahan yang ibaratnya bisa dipetik setiap hari. Setiap hari menu buah semangka pasti ada.

Karena ke "monotonan" menu itulah biasanya kami sesama teman JS10 antara lain, Pak Sofyan, Hari pasaribu, Danny, Anton Lebang, Ruben, Safar dan lainya suka berburu makanan kampung. Kadang kami bisa beli menu Ikan mas goreng, kakap dan udang sungai. Wah kalau menu ini dapat sekali aja dalam seminggu rasanya nikmat betul.

Namun menu ini sebenarnya sedikit ada resikonya, karena ikan atau udang yang kami konsumsi bisa jadi adalah ikan yang hidup di sepanjang aliran sungai Barito yang notabene dah tinggi banget kadar mercury nya karena kegiatan para penambang liar di sepanjang sungai itu. Bukan tidak tahu resiko, tapi kami lebih memilih cara sesekali saja untuk makan di kampung.

Sepulang kerja dan makan malam, biasanya kami asyik nonton siaran Telivisi baik siaran local maupun fil-film dari TV Kabel. Terlalu sering kami merasa "Garing" jika menonton TV tapi tidak ada camilan yang menemani. Maklum sebagai perkerja tambang yang hidup di tengah hutan tidak banyak menu camilan yang bisa kami dapat dengan harga sesuai kantong. Akhirnya jatuh pada pilihan SUPERMIE.

Tradisi kami, setiap 2 malam sekali akhirnya kami membawa mie instant jatah kantor di bawa ke camp untuk di masak dan dimakan rame-rame. Saya sering kebagian yang bawa mie instant nya, Pak sofyan yang minta telor mentah serta cabe rawit nya di mess makan. "Ritual" masak mie ala kadarnya ini biasanya pak Sofyan yang menjadi Kokinya. Supermie di masukkan ke panci yang di rebus diatas kompor listrik, sewtelah mendidih masukin telor, potongan cabe rawit dan bumum. Diaduk sampai sedikit kering dan setelah masak yang terlihat adalah seperti bubur dari pada mie instant karena ngaduknya sengaja di bikin selama mungkin. Dari penampilan memang terkesan "menjijikkan" tapi soal rasa...............Mak Nyuuussss......

Kamis, Juni 18, 2009

Air Terjun Sungai MENAWING


Bekerja di tengah belantara Kalimantan Tengah dengan aktivitas yang serba monoton dan "itu-itu saja" sering mematikan kreativitas dan ide-ide brillian lainya. Jam kerja dengan ritme.......6 to 6, six to six...6 to 6 terus membayang setiap hari. Berangkat jam 6 pagi dan pulang jam 6 petang adalah menu harian selama 4 minggu penuh. Hari minggu sedikit ada pengecualian karena bisa pulang lebih cepat atau sekitar jam 3 sore.

Jam kerja yang sangat panjang yang monoton ini lah yang akhirnya membuat para "Pekerja Tambang" sedikit kedododoran melepaskan hobby dan kegemarannya. Yang memungkinkan hanya sekedar olah raga bulutangkis, bola volley, fitness dan sejenisnya. Sisanya memelototi siaran TV kabel yang filmnya selalu itu-itu saja pindah dari HBO, MAX, Hallmark, Star Movie, AXN dan channel-channel yang lain.

Setiap minggu karena itu "Hari Istimewa" biasanya kami para pekerja tambanng melakukan aktivitas yang sedikit berbeda dari rutinitas sehari-hari. Ada yang naik ke Gunung Muro, Air Terjun sengai Menawing dan ada yang berburu durian di hutan.

Minggu itu, sesuai kesepakatan, Saya, Asran, Yudi, Usah, Mas Joko dan Nolly sepakat untuk cari "Durian Runtuh" di hutan sekitar air terjun sungai Menawing. Jam 15.30 kami siap dengan sepati kets dan pakaian olah raga. Perjalanan kami menerobos belakang JS 10 melewati kampung penduduk asli. Dari kejauhan saya sudah mendengar saut-sautan suara anjing. Kembali terbayang peristiwa malam itu ketika saya dan Nolly terpaksa berpapasan dengan rombongan pemburu babi hutan.

Namun karena hari ini siang dan masih terang benderang saya berpikir nggak akan se seram tempo hari. Disamping itu rombongan kita ada 6 orang, jadi nggak terlalu takutlah. 1 jam tak terasa kami berlari-lari sore sambil lirik kiri - kanan akhirnya kami betul - betul melewati perkampungan itu. Tak kusangka ternyata dalam perkampungan itu rada padat dan anjingnya memang berkeliaran. Dari jauh juga nampak para bapak - bapak yang sedang memegang tombak berburu. Seketika nyali pun ciut, namun karena semua teman-teman sepertinya tidak ada rasa gentar sayapun dengan hati sedikit getir mengikuti langakah teman teman melaju menuju air terjun Menawing.

Asran dan Yudi sebagi initiator "petualangan" ini sepertinya sangat antusias dan bisa meyakinkan kami bahwa di depan sana ada banyak "Durian Runtuh" dan "Pemandangan Indah" air terjun Sungai menawing. Yang lain tetap semangat untuk terus menjadi pendukug 2 teman saya tadi, tapi tidak buat saya.

Saya lirik arloji ditangan sudah menunjukkan pukul 5 sore dan belum bertemu yang namanya durian runtuh dan hanya terdengar sayup-sayup suara air terjun. Saya bisa memprediksi itu masih sekitar setengah perjalanan lari-lari kecil sambil menerobos hutan liar disekeliling jalan setapak yang kami lalui. Otak accounting saya mengolah semua data dan pendengaran menjadi suatu kesimpulan. Jika tetap nekat sampai ke Air Terjun, maka perlu setengah jam, artinya jam 5.30 baru sampai di sana. Mandi 30 menit artinya jam 18.00 masih di tengah hutan tanpa membawa senter dan korek api. Ini konyol namanya. Maka sebelum terlanjur akhirnya akupun menyerah dan bilang pada rombongan bahwa saya akan balik ke camp duluan.

Celaka, ternyata tak satupun dari rombongan setuju dengan ide saya. Akhirnya saya terpaksa balik ke camp sendirian. Tersirat mega jingga di ufuk barat di hiaasi awan tipis yang sedang berarak ke peraduan. Dengan ilmu nekad, akhirnya ku ikuti langkah kaki kembali ke camp. Satu hal yang saya lupa, di depan saya akan melewati perkampungan yang banyak anjing pemburunya. Saya kuatkan tekad terus berlari dan tak lupa mulutpun "komat-kamit" membaca segala do's agar perjalanan ke camp selamat tanpa cedera.

Benar, sejurus kemudian saya bisa merasakan aura yang nggak enak. Merinding campur takut dan deg-degan saling mengaduk-aduk pikiran dan perasaan. Terlalu ngeri untuk dibayangkan. Di depan mata saya puluhan anjing buru berlarian kesana kemari bercengkrama antara yang satu dengan yang lain. Kuputuskan untuk berhenti berlari dan hanya berjalan kaki. Menurut pengalaman, anjing akan selalu mengejar sesuatu yang berlari.

Dugaan saya benar, saya akhirnya "Selamat" melewati kampung itu dan kira - kira 100 meter kaki melangkah, akhirnya ku putuskan "Lari Tunggang Langgang". Ini keputusan yang harus di ambil karena terpaksa oleh rasa Takut, Ngeri dan Trauma.

Jam 18.15 akhirnya saya sampai di camp dalam keadaan selamat. Lecet-lecet di sekujur kaki tidak perlu dihiraukan. Ini adalah resiko yang harus "di bayar" karena mengikuti ide konyol yang "tak terukur".

Itung-itung sebagai "uji nyali" ........(ngeriiiii.........)

Jumat, Juni 12, 2009

Kena Jipen Babi


Tinggal dan berinteraksi dengan masyarakat di pedalaman Kalimantan Tengah, saya sebagai pendatang harus bersikap hati-hati. Lengah sedikit bisa-bisa pulang tidak membawa gaji.

Persistiwa ini terjadi menimpa Rony teman kami. Seperti biasa dia meluncur dari camp menuju tempat kerjanya di Dock Site yang kira-kira jaraknya 6 km. Dengan mobil Toyota Landcruser HZJ75 - fasilitas perusahaan, Rony melaju kencang pagi itu. Tak terasa Rony telah menabrak "bayi babi" seorang pendukduk yang tinggal di pinggir jalan perusahaan itu.

Tak pelak babi pun tewas seketika. Karena laju mobil Dony meninggalkan debu yang cukup tebal, maklum jalan tambang hanya tanah yang di uruk Sirtu (Pasir sama Batu), maka Dony tidak mendengar teriakan sang pemilik babi untuk berhenti dan menyelesaikan proses ganti rugi.

Belum lama Rony serius bekerja tiba-tiba ada panggilan radio dari kantor admin bahwa dia harus ke kantor segera karena ada babi yang tertabrak mobilnya pagi itu. Sedikit heran dan bertanya-tanya dalam hati, Rony menebak-nebak akan besarnya nilai "Jipen" seekor anak babi itu. Dengan berat ditinggalkanya pekerjaan yang menumpuk itu dan segera naik di mobil "import" nya menuju kantor Admin. Kali ini Rony tidak memacu kencang mobilnya agar tidak timbul korban babi, anjing atau ayam milik pendukuduk sekitar. Bisa-bisa pesangon pun lewat jika itu terjadi

Belum sempat dia duduk, umpatan pemilik babi sudah mendampratnya. Tidak bertanggung jawablah, di tuduh jagoan dan sebagainya. Mennadari pemilik babi sangat murka, Rony hanya minta maaf dan lagsung masuk "ruang meeting" untuk menyelasaikan "kompensasi" atas 1 ekor babi yang telah di tabraknya pagi itu.

Negoisasi sangat alot, Rony yang di wakili Humas Perusahaan menawar 300,000 dari tuntutan pemilik babi yang ngotot dengan harga 1,500,000. Pemilik babi beralasan jika babi itu tidak di tabrak, pastinya nanti babi itu akan beranak-pinak lebih dari 5 ekor. Tinggal kalikan saja 5 X 300,000 sama dengan 1,500,000.

Ilmu berhitungnya benar tapi apa pasti babi yang di tabrak pagi itu akan umur panjang dan beranak-pinak seperti perkiraan bapak itu. Lha kalau babi itu di terkam anjing hutan atau kena penyakit terus mati gimana, kan nggak ada yang bisa menjamin. Tapi sudahlah, bagi Rony argumen itu tak pantas di jadikan pembelaan demi "menawar" harga atas matinya seekor babi yang telah ia tabrak pagi itu.

Dengan berat hati akhirnya, Rony setuju membayar nilai 1,500,000 untuk seekor anak babi dan tentunya setengah harga itu harus rela gajinya di potong bulan ini.

Sunnguh pelajaran yang menarik, bahwa Hati-hati dan Pelan-pelan dalam mengendarai mobil di area itu jauh lebih murah ongkosnya di banding harus membayar "jipen babi".

Jumat, Mei 29, 2009

SUKU DAYAK


Kalimantan Tengah identik dengan penduduk Suku Dayak, tetapi perantaun dari Sabang sampai Meraoke pun banyak tingal di sini. Kalau anggapan sebagian orang JAWA bahwa orang Dayak sebagai PEMANGSA manusia adalah salah besar. Pada umumnya suku Dayak sama dengan suku-suku lain di Indonesia.

Gadis-gadis Dayak kulitnya putih bersih, bahkan terkesan bahwa orang-orang Dayak lebih mirip orang Tionghua. Dari sisi pergaulan oarng-orang Dayak sangat santun dan ber-etika tinggi. Mereka memegang teguh dimana BUMI di PIJAK, di situ LANGIT harus di JUNJUNG. Artinya kalau ada pendatang maka di harapkan juga menghormati dan menghargai Masyrakat dan Adat setempat.

Orang-orang asli Suku Dayak mata pencahariannya lebih banyak di bidang Pertanian ladang berpindah maupun Nelayan sungai. Namun banyak juga orang suku Dayak yang sudah beradaptasi dengan perkembangan jaman baik sebagai pegawai negri, swasta maupun tidak jarang ada yang sudah menduduki jabatan tinggi di pemerintahan, kepala daerah, misalnya.

Ikatan kekerabatan suku Dayak sangat kuat sehingga pola hidup gotong royong sangat kental mempengaruhi kehidupan sehari-hari mereka. Ini akan terlihat ketika ada acara upacara adat maupun acara ke agamanaan.

KUYANG


Seumur hidupku, saya belum pernah dan nggak akan pernah ingin ketemu dengan nama itu. KUYANG kata orang setempat hampir sama dengan LEAK di BALI atau BANASPATI di pulau JAWA.

Di Kalimantan Tengah, KUYANG katanya adalah sebuah kepala manusia plus usus yang terburai dan melayang di udara pada malam hari untuk mencari mangsa. Hanya orang-orang yang terpilih bisa menjadi KUYANG.

Ketika saya bekerja di salah satu tambang emas di sana, untungnya saya tidak tahu tentang kata KUYANG itu, andai saya tahu pasti beda ceritanya. Selama di sana saya tinggal di mess perusahaan yang kebetulan JS-10 adalah mess paling belakang. Belakang dari mess itu di pagari oleh kawat berduri dan bersentuhan dengan hutan bambu yang lebat. Jika malam hari dan angin bertiup kencang, suara gesekan daun dan ranting bambu menambah suasana begitu mistis apalagi di terangi sinar bulan Purnama. Makin sempurnalah suasananya magis itu.

JS-10 ada 6 kamar untuk 6 karyawan, namun karena bekerja di tambang ini menggunakan sistem roster, maka biasanya hanya 3 - 4 orang yang menghuni. Sialnya, selalu ada waktu kosong dimana dari 3 orang itu tinggal bersama-sama. Mas Agus dari Dyno lebih suka tinggal di kampung sehingga praktis kadang saya harus tinggal sendirian di mess itu.

Hampir tiap malam saya mendengar suara seperti burung yang sedang terbang di atas mess dengan suara kepaknya sayapnya yang terlalu keras suaranya. Saya pun tidak menaruh juriga.

Akhirnya ketika saya sudah tidak bekerja lagi di sana baru tahu bahwa suara-suara itu adalah KUYANG. Merinding seluruh bulu kuduk ku ketika mas Usah menceritakan semua ini. Untungnya mas Usah yang asli orang Kalimantan Tengah menceritakanya kepada saya ketika saya sudah berhenti dari perusahaan itu, seandainya belum....tak tahu apa yang terjadi.

Rabu, Mei 27, 2009

SUNGAI BARITO DI TENGAH MALAM


Seperti biasa, setiap tanggal 20 an setiap bulan saya atau staff acounting yang lain harus ke Muara Teweh, sebuah kota kecil di kabupaten Barito Utara. Dari Dock site perusahaan kami perlu wakyu 4-5 jam untuk sampai ke Muara Teweh dengan menggunakan speed boat, tak ada jalan darat.

Sore itu rencananya kami berangkat sekitar pukul 16.00, namun karena masih banyaknya pekerjaan akhirnya kami terpaksa meluncur jam 19.30. Malam sudah terlihat pekat untungnya rembulan purnama masih mau menerangi sekitar SUNGAI BARITO yang dikelilingi hutan lebatnya. Sejurus kemudian, saya, mas Taufik, 2 brimob dan pak Pugau sang sopir speed boat beranjak menyusuri sungai barito yang tenang. Sungai itu memperlihatkan kedalamanya lewat air yang mengalir tenang dipermukaanya. Kami membelah dimalam yang gelap menyusuri liukun indahnya sungai barito yang diterpa rembulan.

Ngeri membayangkan jika speed boat yang saya tumpangi rusak atau bahkan pecah menabrak batang pohon larut, apa jadinya. Betul-betul malam yang mendebarkan. Pak Pugau hanya mengandalkan instingnya kapan harus belok kiri kapan harus belok kanan. Kami pun percaya 100% dengan dia, karena dia sudah bertahun-tahun menyusuri sungai itu siang dan malam.

Lewat tengah malam akhirnya kami sampai di Muara Teweh, kami langsung istirahat di Hotel Pacifik Muara Teweh. Karena kelelahan di balut dinginnya malam sepanjang perjalanan, saya tidur dengan lelap. Esok paginya saya ke BNI setempat untuk mengambil uang gaji bagi teman-teman di Indo Muro Kencana.

Akhirnya setelah urusan kelar kami meluncur pagi harinya kembali ke dock site IMK di Mangkahui tak lupa makan siang dulu di Puruk Cahu dengan menu udang sungai yang luar biasa rasanya.

Selasa, Mei 26, 2009

PEMBURU BABI

Seperti biasanya, sebagai staff accounting jam kerja saya sedikit lebih panjang dibandingkan dengan staff lain, apalagi pas ngejar dead line bikin monthly report. Malam itu seperti biasanya saya dan Nolly lembur berdua di kantor admin yang kira-kira jaraknya 2 km dari camp. Di luar nampak awan tebal menggelayut di ujung langit dan sesekali terlihat kilauan kilat yang bercengkrama dengan pekatnya malam.

Saya dan Nolly cepat-cepat mematikan computer dan bergegas keluar kantor menuju "Shutle Bus". Setengah jam di tunggu, bus tidak juga kedengaran derunya apalagi batang hidungnya. Setengah putus asa akahirnya kami jalan kaki pulang dari gedung admin menuju camp, berjalan di antara rimbunya hutan dalam gelap tanpa korek api dan senter, ditemani serunya suara guntur dan kilat makin melengkapi perjalanan yang mendebarkan.

Jalan yang biasanya terasa dekat di kala siang hari, malam itu terasa jauh dan melelahkan. Dengan langkah terburu-buru kami setengah berlari untuk menghindari hujan yang nampaknya akan turun. Ketika kami melewati simpangan kantor "MINING" kami mendengar suara riuh rendah anjing pemburu.

Hati kami terasa kecut membayangkan jika anjing-anjing itu salah sasaran. Sepuluh langkah kami lewati nampak pemandangan berpuluh-puluh anjing pemburu menggonggong dan berlari-lari kecil didepan 5-6 penduduk setempat dengan "LANJUNG" di kepala, MANDAU di pinggang serta tak lupa TOMBAK di tangan kanan, sementara tangan kirinya menjinjing lampu.

Kami berjalan agak menepi ke kiri memberi kesempatanan rombongan pemburu babi hutan itu lewat, yang kami lakukan saat itu hanya tidak melakukan gerakan yang tidak biasa agar kami tidak menjadi sasaran para anjing - anjing itu. Dalam hitungan kurang dari 5 menit akhirnya kami benar-benar berhadapan langsung dengan rombongan itu. Jantung bedetak semakin kencang, sambil komat-kamit mengucapkan do'a kami pun berjalan agak merunduk. Ini kami lakukan agar tidak terjadi salah paham dan salah sasaran.

Sempat terlintas di pikiran saya, seandainya para pemburu salah mendeteksi kami dan mengkomando anjing-anjingnya, maka dalam sekejab kami akan bernasib seperti babi-bai hutan itu. Ngeri dan menyeramkan.

Setelah semua anggota rombongan melewati kami, hati tersa lega dan kuputuskan sekarang langkah harus di ganti dengan lari dan lari. Kami terus berlari tanpa pedulu bahwa jalan yang kami lewati tidak mulus karena penuh batu besar yang lepas dari tempatnya. bagi kami saat itu, menghindar secepat mungkin jangan sampai rombongan pemburu itu berubah pikiran.

Sambil terus berlari dan nafas yang ngos -ngosan akhirnya kami melihat dari kejauhan se titik lampu pos satpam di pintu masuk camp. Senang, gembira dan bersyukur itulah yang kami rasakan malam itu. Ternyata kami masih hidup.

Sejak kejadian malam itu, saya dan Nolly memuturkan tidak akan lembur lagi jika tidak ada kendaraan stand by..........