Pengalaman yang satu ini bagi saya terlalu ganjil. Pagi itu kami berlima, Ivan, Fath, Maryono, Rahiman dan saya sendiri berangkat dari Lubuk Linggau jam 5 pagi. Cuaca cerah sedikit berkabut karena asap huta yang terbakar. Setelah masuk mobil, sayapun terlelap lagi karena malamnya harus begadang nungguin anak yang sedang sakit dan Rewel.
Musik dangdut langganan kami yang di sajikan pak Sukri sepertinya pagi itu terlalu lembut sehingga matapun tak bisa kompromi dan tertutup otomatis alias tertidur. Kira - kira satu jam perjalanan akhirnya saya pun terhenyak dari lelap tak sengaja itu karean pak mobil pak Sukri menghantam batu yang cukup besar di simpang danau Karang Jaya. Akhinya kami se mobil terhenyak dan seketika mata terbuka. Kamipum melaju seperti biasa dan tidak terjadi apa-apa. Kami melewati desa Muara Tiku dan akan melewati desa Suka Menang.
Dari jauh nampak bis karyawan perusahaan kami terlihat timbul tenggelam terhalang oleh tanjakan jalan yang naik-turun. Setelah melewati tanjakan tinggu dan siap menukik turu, tiba-tiba pak Sukri menghentikan mobilnya. Tanpa ada rambu-rambu apapun rupianya sebuah balok berukuran kira-kira 10 x 10 dan panjang 4 meter sudah melintang di tengah jalan. Dari kejauhan nampak 2 orang pemuda dengan wajah garang sampil memegang pisau.
Hatipun ciut dibuatnya oleh situasi seperti ini di awal pagi. Setelah mobil yang kami tumpangi mendekat ke 2 pemuda itu, kamipun di suruh berhenti. Dengan roman muka yang penuh amarah satu dari 2 pemuda itu bertanya.
"Siap0 yang menentukandi terimo tidaknyo aku kerjo di sano, apo pak Ivan, apo HRD atau apo Malaikat".
Sayapun bingung, apakah dengan cara seperti ini kalau ingin cari kerja. Karena kami tidak mau ribut akhirnya 2 pemuda itupun kita suruh ikut di mobil dan kita minta datang ke kantor. Bukan tugas dan tanggung jawab kami untuk menentukan di terima atau tidaknya seseorang pelamar kerja.
Dalam hati saya hanya berpendapat, seandainya kita mau minta tolong kepada orang lain, apa layak kita tempelkan sebuah pisau di leher orang tersebut. Bukankah sebaiknya kalau kita mau meminta, kita harus merendah dan sopan?.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar