Sudah bukan hal yang aneh, setiap musim kemarau pembakaran hutan sangat marak di sekitar Lubuk Linggau. Alasan yang paling umum pembakaran adalah pembukaan lahan untuk kebun kelapa sawit, namun benar tidaknya alasan ini susah di percaya. Banyak orang berpendapat untuk kebun karet bahkan ada yang bilang karena terbakar senidri, sulit memang mencari kepastian akibat kebakaran ini jika api sudah melalap semak-semak dan pepohonan.
Akibatnya, jalan-jalan pasti tertutup asap tebal dan di samping baunya yang menyengat efek di mata juga sangat pedih. Semua itu pastia akan merugikan kesehatan terutama penyakit yang berhubungan dengan pernafasan dan pengelihatan. Makanya selama "MUSIM ASAP" ini saya harus terus-menurus memakai masker. Masker yang saya pakai pun tidak cukup dengan masker kain seperti yang di pakai dokter kalau periksa pasien.
Kami menggunakan masker seperti layaknya ahli kimia yang sedang bekerja di lab menghindari zat radioaktif. Dengan faslitas filter di kiri dan kanan masker yang saya pakai, asap cukup effektif saya saring. Namun efeknya bernafas jadi lebih berat dan bergerak kurang bebas.
Saya memakai masker jenis ini bila berangkat kerja selam di kendaraan atau ketika harus keluar rumah. Bahkan istri saya yang lagi hamil ana pertama kamipun tak luput dari cara ini. Bahkan sampai-sampai ketika kami mau tidurpun kadang masker tetap harus terpasang. Ini adalah cara hidup yang sangat ganjil sebenarnya, tapi demi kesehatan kami, apapun akan kami lalukan.
Akibat kabut asap ini yang pasti, selain perih dimata, sesak pernapasan, udara di sekitar kitapun sangat panas. Sehingga emosipun kadang susah di kontrol.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar