Selasa, Juni 23, 2009

INDOMIE TELOR


Hidup dan bekerja di tambang dalam hutan belantara sudah pasti kebosanan sering menghantui kehidupan sehari-hari. Mulai dari jam kerja yang monoton, aktivitas yang monoton sampai menu makanan yang monoton.

Walaupun menu yang ditawarkan dari cateting perusahaan sangat "Mewah" tapi karena juru masaknya ya itu-itu saja, makanya rasa makanan yang kita santappun akan "begitu-begitu aja" juga. Perusahaan catering sebenarnya sangat lengkap dalam menyediakan menu dan bahan makanannya. Ada Daging, Ayam, Telor, Ikan dan hampir seluruh sayur dan buah juga tersedia. Tapi karena secara psikologi udah "enek" dan bosan, maka apapaun bahan dasarnya pasti rasanaya sangat standart. Ini mungkin karena para koki terlau irit bumbu sehingga rasa yang dominan adalah ASIN.

Menu harian yang tak pernah hilang dari hari-kehari adalah sayur kol atau kubis. Entah itu di tumis, bikin campuran cap cay maupun bikin mie rebus, pokoknya sayuran ini pasti ada setiap hati. Begitu juga dengan semanga, buah yang satu ini adalah jenis buah-buahan yang ibaratnya bisa dipetik setiap hari. Setiap hari menu buah semangka pasti ada.

Karena ke "monotonan" menu itulah biasanya kami sesama teman JS10 antara lain, Pak Sofyan, Hari pasaribu, Danny, Anton Lebang, Ruben, Safar dan lainya suka berburu makanan kampung. Kadang kami bisa beli menu Ikan mas goreng, kakap dan udang sungai. Wah kalau menu ini dapat sekali aja dalam seminggu rasanya nikmat betul.

Namun menu ini sebenarnya sedikit ada resikonya, karena ikan atau udang yang kami konsumsi bisa jadi adalah ikan yang hidup di sepanjang aliran sungai Barito yang notabene dah tinggi banget kadar mercury nya karena kegiatan para penambang liar di sepanjang sungai itu. Bukan tidak tahu resiko, tapi kami lebih memilih cara sesekali saja untuk makan di kampung.

Sepulang kerja dan makan malam, biasanya kami asyik nonton siaran Telivisi baik siaran local maupun fil-film dari TV Kabel. Terlalu sering kami merasa "Garing" jika menonton TV tapi tidak ada camilan yang menemani. Maklum sebagai perkerja tambang yang hidup di tengah hutan tidak banyak menu camilan yang bisa kami dapat dengan harga sesuai kantong. Akhirnya jatuh pada pilihan SUPERMIE.

Tradisi kami, setiap 2 malam sekali akhirnya kami membawa mie instant jatah kantor di bawa ke camp untuk di masak dan dimakan rame-rame. Saya sering kebagian yang bawa mie instant nya, Pak sofyan yang minta telor mentah serta cabe rawit nya di mess makan. "Ritual" masak mie ala kadarnya ini biasanya pak Sofyan yang menjadi Kokinya. Supermie di masukkan ke panci yang di rebus diatas kompor listrik, sewtelah mendidih masukin telor, potongan cabe rawit dan bumum. Diaduk sampai sedikit kering dan setelah masak yang terlihat adalah seperti bubur dari pada mie instant karena ngaduknya sengaja di bikin selama mungkin. Dari penampilan memang terkesan "menjijikkan" tapi soal rasa...............Mak Nyuuussss......

Tidak ada komentar: