Rabu, Juni 24, 2009

PENGEMBARAAN KE SUMATRA

Pertengahan tahun 1997 adalah awal pengembaraan hidup di pulau Andalas alias Sumatra. Senangnya luar biasa ada kesempatan untuk menjejakkan kaki di Pulau Besar ini. Ketika masih di SMA dulu, saya sangat ingin dan bercita-cita hidup di Sumatra. Selain pulau yang luas terlihat subur, itulah yang ada di benak saya ketika itu.

Akhirnya, impian itu terwujud setelah seorang teman Marlieta Karwur yang sudah bekerja di salah satu tambang emas di kawasan Musi Rawas - Sumatra Selatan menawarkan posisi Junior Accountant di sana dengan roster 4 : 2, alias 4 minggu kerja di site (hutan....kata lainya) dan 2 minggu bisa libur dan balik home base di Balikpapan.

Saya pikir ini kesempatan emas, setelah mengalami "Stagnan" kerja di kalimantan Tengah. Dengan antisias saya tandatangai surat kontraknya dan saya kirim balik ke "calon" kantor baru di Sum-Sel sana. Empat belas hari berikutnya saya harus sudah terbang ke Jambi via Cengkareng. Infonya setelah sampai bandara di Jambi akan ada driver yang menjemput namanya Pak Ali dan akan mengantarkan ke Camp kira-kira 6 jam perjalanan ke arah Lubuk Linggau.

Sesuai rencana, akhirnya pesawat merpati yang saya tumpangi dari Bandara Soekarno Hatta cengkareng mendarat mulus di bandara Sultan Thaha Jambi sore itu. Setelah bagasi saya tenteng keluar, ada seorang bapak-bapak yang menuliskan nama saya di kertas A4 dan mengangkatnya. Saya yakin itu adalah driver dari perusahaan yang menjemput saya. Saya datangi dan saya bilang, itu nama saya dan kami pun berkenalan dan langsung menuju mobil L200 warna putihnya.

Saya pikir banyak penumpang yang pak Ali jemput hari itu karena pakai mobil jumbo. Ternyata pak Ali bilang tunggu penumpang lagi istri bos bulenya, namannya Julie Fergus. Wah bakal nggak nyaman nih bareng sama orang bule satu mobil. Seperti biasa kalau expat naik jemputan tidak pernah mau istirahat mampir di warung untuk sekedar isi perut atau bahkan sekedar meluruskan pinggang. Sejurus kemudian muncullah ibu Julie Fergus, si rampur kriting pirang dengan back pack di punggung dan tas jinjing yang tak terlau besar.

Akhirnya setengah jam kemudian saya meninggal kan bandara Sultan Thaha yang kecil tapi bersih dan rapi. Kami meluncur terus menelusuri perkampungan di sekitar bandara yang terkesan sama dengan perkampungan di kota-kota lain. Rapi, bersih dan kelihatan asri. Tak lama kemudain kami memasuki jalan lintas Sumatra. Luar biasa, itulah kesan pertama melintasi "jalan Tol" lintas propinsi ini. Aspal yang mulus, lurus dan sedikit sekali tanjakan, kiri-kanan adalah ladang kebun kelapa sawit milik Lonsum yang saat itu tinngi pohonya baru kira-kita setengah meter. Maka pemandanganya sungguh Indah.

Kira-kira jam 18.30 pak Ali menghentikan mobil bongsornya di sebuah Warung Padang pinggir jalan. Lega, itu kesan pertama saya. Bakal ada kesempatan ngisi perut yang sejak tadi udah mulai keroncongan, maklum perjalanan saya dari Balikpapan dimulai sejak pukul 10 pagi ke Jakarta dan berangkat ke Jambi jam 14.30 dan mendarat di Jambi jam 17.00 belum makan Nasi. Maklum perut local.......he..he, biar makan roti satu bantal kalua belum kena nasi belum puas.

Seperti biasa "si Uda" pelayan warung padang itu dah langsung nurunkan sepiring nasi, plus "menghamparkan" segala lauk-pauk di atas meja. Ada Rendang daging, Gulai Ikan, Sambel goreng hati, Ayam Bakar, Ayam Goreng, Ayam Pop, kikil, sayur nangka dan masih banyak lagi hidangan, lalapan dan sambelnya. Tak sabar rasanya ingin saya santap semuanya, akhirnya pilihanku tentu jatuh pada Ayam Bakar bagian Dada plus Rendang Daging.

"Fauzi, Why you eat using your bare hand, there are a couples Spoon and Fork on the table?". Itu kata-kata yang muncul dari ibu Julie Fergus. Sejenak saya biarkan kerongkongan meluncurkan sekepal nasi yang sudah dicampur ayam bakar, sambel dan kuah ayam. Saya pun akhirnya bingung mau munjawab apa. Biasanya expat pasti perlu jawaban yang logis dan nggak mengada - ada. Karena alasan logicnya nggak punya waktu itu, akhirnya saya bilang " Its our tradition, I don't have any other reasonable reason". Akhirnya dengan "mlongo" dan tampang yang "bego" akhirnya si bule manggut-manggut. Mungkin dia pikir, dasar udik, masak melakukan sesuatu nggak ada alasanya.........

Selesai makan, saya melanjutkan perjalan ke arah Musi Rawas nanti kata pak Ali kita akan melewati Karang Jaya, Muara Tiku, terus ke desa Sukamenang. Setelah itu akan masuk ke jalan bekas logging yang membelah hutan. Kalau di kalkulasi maka sekitar jam 11.00 malam baru sampai camp dengan catatan tidak ada halangan.

Dalam perjalanan ibu Julie Fergus menawarkan camilan yang dia beli di toko sebelah warung padang sore tadi. "You want some, Fauzi?." dan dengan pedenya kujawab "Thank You" tapi saya tidak ada reaksi mau ambil atau tidak. Tiba-tiba si bule nyletuk lagi " Yes, thank you or no thank you?" katanya. Akhirnya saya jawab "no thank you". Karena terbiasa jadi orang jawa makanya biasanya kalau ada orang tua yang nawarin apa saja biasanya saya jawab terima kasih sambil menunduk kan kepala tak lupa pasang senyum tipis menyungging. Rupanya cara seperti itu tidak biasa bagi si bule. Jawabannya harus jelas "Iya, terima kasih" atau "tidak, terima kasih" (.....uuuuhhhhhhhhh ayak-ayak wae)

Tepat jam 11 malam akhirnya saya sampai di camp yang sengaja di bagun diatas bukit, dari situ saya bisa memandang bukit-bukit dan rindangnya belantara hutan di Sumatra Selatan. Dalam hati, besok adalah awal pengembaraan sesungguhnya..............

Tidak ada komentar: